SELAMAT DATANG di CATATAN ORANG PINGGIRAN, Blog Khusus Untuk Tempat Men-share Berbagai Kisah & Harapan Orang Pinggiran

Temukan Disini

Kamis, 10 Juli 2014

PENJUAL SENDOK BEKAS

PENJUAL SENDOK BEKAS 
“Jang  abdi bade nyandak sendok,  manawi aya?” kata Omah. “Tos  seep ma, da tos di candak ka tonggoh ka ditu”  jawab bandar  barang bekas  “Oh nya wios atuh abi milarian deui kanu sanes” tutur Omah dengan  wajah sedih.
Bukan baru kali ini saja pencarian Omah berakhir dengan tangan hampa. Wajar saja mencari sendok bekas tak seperti mencari sampah plastic yang melimpah. Wanita 70 th ini  sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. “atuh teu aya nu miwarang ngicalan mah ngngur we sadinten sadinten teh, kadang2 menak emam kadang2 henteu malihan mah sok dipasihan ku tatangi” . seminggu sampai dua mingu sekali yang Omah lakukan memanglah berkeliling ke bandar2 barang bekas yang ada di kampungnya. Masih ada harapan, ada satu tempat lagi yang biasa Omah datangi. Mudah2han kali ini Omah lebih beruntung.
Jang Adang  “kulan” “ ieu bade setoran anu kamari” “uhun”, tah ayeuna bade nyandak deui, aya teuaya?”” aya ma ngan can di ieu ku abi teh can dipilihan sok we lah ema milihan nyalira”
Ia masih memiliki utang setoran sisa penjualan minggu lalu. Kali ini Omah Maryam,ah bias sedikit lega ada keeping keeping sendok diantara tumpukan sampah dan loakan. Beberapa piring kaleng ini juga sangat berguna bagi dirinya, keperadaan kepingan sendok dan piring bekas ini memang begitu berharga bagi Omah. Menemukannya layaknya melihat emas. Barang bekas ini nantinya bias ia jual untu enyambung hidup bersama sang anak di rumah. Terakhir kali omah mengumpulkan sendo pada minggu yang lalu. Jeda waktu seminggu kiranya cukup untuk membuat sendok bekas terkumpul lagi.omah tak bisa menjualnya perbiji, ia harus mengumpulkan paling tidak satu lusin  hingga bisa dijual kembali. Jika terlalu cepat paling2 sendok yg tersedia hnya beberapa potong saja pekerjaan omah memang tak biasa tak banyak orang yg terpikir menjual sendok bekas seperti yang dilakukan Omah.
“dulunya pertamanya suka ngambil yang ginian kan rongsokan,  cumin dia kasian lalu saya tawarin itu sendok jual sendok, ambil dulu kemudian kaqlau udah laku baru bayar”
Dahulu omah memang pernah mengumpulkan sampah plastiknamun karena fisiknya yg semakin menua omah tak kuat l;agi keliling kampong mencari onggokan sampah beks kemasan air minum sementara hasilnya sangat tak serbanding. Mengumpulkan samoah plastic jelas mengharuskan Omah berkali kli menunduk sepanjang jalan tiap kali ingin mengambil sampah “ henteu da ahh teu kiat atuh da ieu na ,,angkatna, ieu sok nyeri cangkeng upami angkat lmi2 the, teras we nyri dikituan  kadang2 nju mapah teh .
Menjual sendok ebenarnya tak bisa dibilang enteng namun paling tidak rasa lelah yang diakibatkan masih bisa omah tangani inipuntak bisa setiap hari ia menjual sendok, sesekali saja saat persediaan sendok sudah banyak terkumpul. Henteu, ikadang2 samingu sakali, kadang2 samingon teu icalan. Ada kalanya sang Bandar barang loakan ini yang mengumpulkan sendok di suatu tempat naming sering kali omah sendiri yang harus mencari dan mengumpulkan .  ditempat ini belasan pemulung menyetorkan

Siti Penjual Bakso berusia 7 Tahun

Siti Penjual Bakso Berusia 7 Tahun

Siti Penjual Bakso berusia 7 Tahun membuat miris pembaca kaskus dan kompasiana dengan kisah perjuangan hidupnya. Siti orang pinggiran adalah seorang anak yatim yang harus ikut bekerja membiayai hidupnya dan ibunya dengan berjualan bakso keliling. Siti Pedagang Bakso cilik tinggal di Desa Karangkamulyan, Kec. Cihara, Kabupaten Lebak, Banten Selatan. Siti orang pinggiran yang harus kita pedulikan. Tulisan ini adalah milik seorang penulis kompasiana. Mari kita simak kisah hidup Siti Bocah Penjual Bakso

Siti Penjual Bakso berusia 7 Tahun

Siti, seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong rombong bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.
Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.
Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.
Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.
Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat jualan bakso keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.
Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.
Kepikiran dengan konsidi Siti, dini hari terbangun dari tidur saya buka internet dan search situs Trans7 khususnya acara Orang-Orang Pinggiran. Akhirnya saya dapatkan alamat Siti di Kampung Cipendeuy, Desa Cibereum, Cilangkahan, Banten dan nomor contact person Pak Tono 0858 1378 8136.
Saya menghubungi Pak Tono. Meski agak sulit bisa tersambung. Beliau tinggal sekitar 50 km jauhnya dari kampung Siti. Pak Tono-lah yang menghubungi Trans7 agar mengangkat kisah hidup Siti di acara OOP. Menurut keterangan Pak Tono, keluarga itu memang sangat miskin, Ibunda Siti tak punya KTP. Pantas saja dia tak terjangkau bantuan resmi Pemerintah yang selalu mengedepankan persyaratan legalitas formal ketimbang fakta kemiskinan itu sendiri. Pak Tono bersedia menjemput saya di Malimping, lalu bersama-sama menuju rumah Siti, jika kita mau memberikan bantuan. Pak Tono berpesan jangan bawa mobil sedan sebab tak bakal bisa masuk dengan medan jalan yang berat.

Saya pun lalu menghubungi Rumah Zakat kota Cilegon. Saya meminta pihak Rumah Zakat sebagai aksi “tanggap darurat” agar bisa menyalurkan kornet Super Qurban agar Siti dan Ibunya bisa makan daging, setidaknya menyelematkan mereka dari ancaman gizi buruk. Dari obrolan saya dengan Pengurus Rumah Zakat, saya sampaikan keinginan saya untuk memberi Siti dan Ibunya “kail”. Memberi “ikan” untuk tahap awal boleh-boleh saja, tapi memberdayakan Ibunda Siti agar bisa mandiri secara ekonomi tentunya akan lebih bermanfaat untuk jangka panjang. Saya berpikir alangkah baiknya memberi modal pada Ibunda Siti untuk berjualan makanan dan buka warung bakso, agar kedua ibu dan anak itu tidak terpisah seharian. Siti juga tak perlu berlelah-lelah seharian, dia bisa bantu Ibunya berjualan sambil belajar.

Mengingat untuk memberi “kail” tentu butuh dana tak sedikit, pagi ini saya menulis kisah Siti dan memforward ke grup-grup BBM yang ada di kontak BB saya. Juga melalui Facebook. Alhamdulillah sudah ada beberapa respon positif dari beberapa teman saya. Bahkan ada yang sudah tak sabar ingin segera diajak ke Malimping untuk menemui Siti dan memeluknya. Bukan hanya bantuan berupa uang yang saya kumpulkan, tapi jika ada teman-teman yang punya putri berusia 7-8 tahun, biasanya bajunya cepat sesak meski masih bagus, alangkah bermanfaat kalau diberikan pada Siti.

Adapula teman yang menawarkan jadi orang tua asuh Siti dan mengajak Siti dan Ibunya tinggal di rumahnya. Semua itu akan saya sampaikan kepada Pak Tono dan Ibunda Siti kalau saya bertemu nanti. Saya menulis artikel ini bukan ingin menjadikan Siti seperti Darsem, TKW yang jadi milyarder mendadak dan kemudian bermewah-mewah dengan uang sumbangan donatur pemirsa TV sehingga pemirsa akhirnya mensomasi Darsem.
Jika permasalahan Siti telah teratasi kelak, uang yang terkumpul akan saya minta kepada Rumah Zakat untuk disalurkan kepada Siti-Siti lain yang saya yakin jumlahnya ada beberapa di sekitar kampung Siti.
Mengetuk hati penguasa formal, mungkin sudah tak banyak membantu. Saya menulis shout kepada Ibu Atut sebagai “Ratu” penguasa Banten ketika kejadian jembatan ala Indiana Jones terekspose, tapi toh tak ada respon. Di media massa juga tak ada tanggapan dari Gubernur Banten meski kisah itu sudah masuk pemberitaan media massa internasional. Tapi dengan melalui grup BBM, Facebook dan Kompasiana, saya yakin masih ada orang-rang yang terketuk hatinya untuk berbagi dan menolong. Berikut saya tampilkan foto-foto Siti yang saya ambil dari FB Orang-Orang Pinggiran. Semoga menyentuh hati nurani kita semua.
Video Siti Bocah Cilik Penjual Bakso dengan untung Rp 2000/hari

Suara siti pas nawarin bakso bikin ane nangis, gan
Banyak yang tergerak untuk membantu Siti bocah penjual bakso baik melalui komunitas kaskus, kompasiana maupun bantuan dari Trans7. Diharapkan orang pinggiran seperti Siti dapat tertolong dengan bantuan teknologi informasi dari para dermawan di kota besar. Ayo kita bantu Siti Bocah Penjual Bakso!

Umairoh, Bocah Yatim Piatu Pengais Tepung Tapioka

Umairoh, Bocah Yatim Piatu Pengais Tepung Tapioka

13344728402088989823
Kemarin siang  saya bersama 3 orang teman mengunjungi sebuah tempat wisata di kawasan New Territories Hong Kong. Semula rencana yang sudah kami susun 3 hari sebelumnya ini hanya semata-mata ingin melihat pagoda yang juga berfungsi sebagai aviary di Yuen Long’s Park yang cukup terkenal itu. Tetapi tujuan semula untuk “bersenang-senang” di sana akhirnya kami ubah dengan adanya misi mencari donatur untuk Iroh.
Siapakah Iroh? Perkenanlah di sini saya akan bercerita tentang kerasnya perjuangan bocah yatim piatu untuk bertahan hidup. Cerita bermula dari teman saya sesama TKW. Namanya Mbak Maya. 3 hari yang lalu, Mbak Maya menelpon saya. Karena selama ini dia mengetahui aktifitas saya yang suka menulis di Kompasiana, kali ini dia meminta kesediaan saya untuk menuliskan kisah Iroh.
Umairoh atau yang biasa dipanggil Iroh ini adalah tetangga dari Mbak Maya di kampung. Kebetulan Mbak Maya ini juga berasal dari kabupaten yang sama dengan saya yaitu Pati, Jawa Tengah. Diceritakan oleh Mbak Maya, bahwa saat ini suami beliau (Bapak Muhammad Sofwan) di kampung halamannya tengah gencar menggalang dana untuk turut meringankan beban hidup yang ditanggung Umairoh.
Dan melalui percakapan via telepon itu, Mbak Maya mengungkapkan bahwa kisah Iroh telah ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi. Tepatnya pada hari Selasa tanggal 10 April yang lalu. Adalah stasiun televisi Trans7 melalui program acara “Orang Pinggiran” menayangkan kisah “Umairoh Bocah Pengais Tepung”. Begitu info itu saya dapatkan sayapun lantas mencari videonya di Youtube.
Menyimak tayangan itu membuat saya benar-benar menitikkan air mata. Maka siang tadi, kami berempat sepakat untuk melakukan aksi “penggalangan dana” untuk Umairoh. Rencananya dana yang terkumpul akan kami serahkan kepada Umairoh bulan depan. Dana tersebut akan diserahkan langsung kepada Umairoh melalui teman saya yang kebetulan akan pulang ke Tanah Air karena habis masa kontrak kerjanya (Wahyu Retno Asih).
Maka meluncurlah kami ke Yuen Long. Di sana kami bergabung dengan Ibu Binah yang merupakan anggota dari Forum Silaturrahim Muslimah (FSM Bersatu)-sebuah forum pengajian ibu-ibu TKW. Dimana sebelumnya, Mbak Maya sudah mengkoordinasikan masalah penggalangan dana dengan beliau. Dengan bantuan Ibu Binah inilah kami mencoba mengetuk hati para TKW yang sedang berlibur di areal tempat wisata Yuen Long’ Park.
Metode yang kami gunakan untuk menarik perhatian dari teman-teman adalah dengan memutarkan tayangan video “Orang Pinggiran” yang berjudul “Umairoh Bocah Pengais Tepung” melalui Youtube. Mbak Maya juga memberi uraian bahwa setting pengambilan gambar untuk program acara dari Trans7 tersebut diambil di pelataran rumah mertua-nya.
Sebagian dari ibu-ibu yang turut menyaksikan video tersebut tampak larut dalam kesedihan. Mereka bisa merasakan betapa berat beban hidup yang dirasakan Umairoh. Alhamdulillah dari kegiatan tadi siang, kami bisa mengumpulkan sejumlah uang untuk kami serahkan kepada Umairoh. Insyaallah untuk minggu-minggu ke depannya, kami juga akan melakukan hal yang sama.

Gambaran Masyarakat Pinggiran

Gambaran Masyarakat Pinggiran



Menelusuri sumber kemunculan kaum miskin merupakan sesuatu yang cukup kompleks; ada beberapa catatan yang bisa menjadi acuan tentang adanya kaum miskin dengan kemiskinannya [terutama di Indonesia], yaitu:

1. Mereka ada karena angka kelahiran yang tinggi
    Kelompok masyarakat yang tidak maju [untuk sementara kita memakai kaca mata kemajuan] sering disebut kaum miskin yang sarat dengan kemiskinan. Kaum miskin [plus kemiskinan] ini juga mengalami pertumbuhan dengan pesat atau bertambah banyak jumlahnya [terutama karena angka kelahiran yang tingi]. Angka kelahiran kaum miskin di negara-negara dunia ketiga [termasuk pada wilayah-wilayah tertentu di Indonesia] yang tinggi, pada konteks tertentu, tidak seimbang dengan tingkat kematian. Pertumbuhan kaum miskin yang sangat pesat ini terjadi hampir semua lokasi atau tempat mereka berada. Dengan demikian, pada umumnya mereka [kaum miskin] hampir tidak mempunyai apa-apa selain anak [anak-anak]; karena mereka tidak banyak berbuat apa-apa, selain prokreasi dan reproduksi.

2. Mereka tetap miskin karena menutup diri dari pengaruh luar
    Tatanan serta keteraturan suatu komunitas masyarakat [di lokasi komunitas itu] merupakan warisan secara turun-temurun. Dan jika komunitas itu mempunyai kontak dengan yang lain, maka akan terjadi saling meniru kemudian masing-masing mengembangkan hasil tiruan itu sesuai dengan sikonnya. Dengan itu, dapat dipahami bahwa hubungan sosial [antar manusia, dan antar masyarakat] bersifat mempengaruhi satu sama lain. Namun, tidak menutup kemungkinan, walau terjadi interaksi, ada kelompok atau komunitas masyarakat [karena situasi tertentu] yang tidak mengembangkan diri, sehingga tetap berada pola-pola hidup dan kehidupan statis. Akibatnya, mereka tidak mengalami kemajuan yang berarti; [sekali lagi, dengan kaca mata kemajuan], mereka tetap dalam keberadaanya yaitu kemiskinan.

3. Mereka tercipta karena korban ketidakadilan para pengusaha
    Kemajuan sebagian masyarakat global [termasuk Indonesia] yang mencapai era teknologi dan industri ternyata tidak bisa menjadi gerbong penarik untuk menarik sesamanya agar mencapai kesetaraan. Para pengusaha teknologi dan industri tetap membutuhkan kaum miskin yang pendidikannya terbatas untuk dipekerjakan sebagai buruh. Dan dengan itu, karena alasan kurang pendidikan, mereka dibayar di bawah standar atau sangat rendah, serta umumnya, tanpa tunjangan kesehatan, transportasi, uang makan, dan lain sebagianya.
Para buruh tersebut harus menerima keadaan itu karena membutuhkan nasi dan pakaian untuk bertahan hidup. Akibatnya, menjadikan mereka tidak mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Secara langsung, mereka telah menjadi korban ketidakadilan para pengusaha [konglomerat] hitam yang sekaligus sebagai penindas sesama manusia dan pencipta langgengnya kemiskinan. Para buruh [laki-laki dan perempuan] harus menderita karena bekerja selama 12 jam per hari [bahkan lebih], walau upahnya tak memadai. Kondisi buruk yang dialami oleh para buruh tersebut juga membuat dirinya semakin terpuruk di tengah lingkungan sosial kemajuan di sekitarnya [terutama para buruh migran pada wilayah metropolitan].
Sistem kerja yang hanya mengutamakan keuntungan majikan, telah memaksa para buruh untuk bekerja demikian keras. Sehingga kehidupan yang standar, wajar dan normal, yang seharusnya dialami oleh para buruh, tidak lagi dinikmati oleh mereka. Fisik dan mental para buruh [yang giat bekerja tetapi tetap miskin], telah dipaksa menjadi bagian dari instrumen mekanis. Mereka dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan irama, kecepatan dan ritme mesin-mesin pabrik dan ritme bising mesin otomotif; mesin-mesin itu, memberikan perubahan dan keuntungan pada pemiliknya, namun sang buruh tetap berada pada kondisi kemiskinan. Dengan tuntutan itu, mereka tak memiliki kebebasan, kecuali hanya untuk melakukan aktivitas pokok makhluk hidup [makan, minum, tidur], di sekitar mesin-mesin yang menjadi tanggungjawabnya.

4. Mereka tetap ada karena adanya pembiaran-pembiaran yang dilakukan oleh penguasa dan   
    pengusaha
    Sikon hidup dan kehidupan komunitas masyarakat [mereka yang tersisih dan tertinggal] miskin diperparah lagi dengan tanpa kesempatan memperoleh pendidikan, tingkat kesehatan rendah, serta berbagai keterbatasan dan ketidakmampuan lainnya.
Mereka ada di mana-mana, pada daerah terpencil, di tepi-tepi pantai, pinggiran kali dan rel kereta api, bahkan wilayah-wilayah atau daerah-daerah kumuh di perkotaan. Kompleksitas masyarakat miskin seperti itu, sengaja dibiarkan begitu saja oleh para penguasa dan pengusaha agar tetap terjadi suatu ketergantungan. Jika ada bencana alam, mereka dibutuhkan agar bisa melakukan charity advertenrial, atau tindakan bantuan sosial yang mengandung nilai iklan bahwa sang pemberi bantuan sebagai orang baik hati serta mempunyai kepedulian kepada kaum miskin [misalnya, jika terjadi bencana [tsunami, banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran]. Perhatian kepada kaum miskin yang hanya berupa charity advertenrial ini, bisa dan biasa dilakukan oleh pejabat, penguasa, tokoh agama, politik, artis, dan lain sebagainya. Dengan itu menghasilkan kaum miskin yang tetap menengadah tangan untuk meminta belaskasihan akibat penderitaannya. Mereka memeriksa kesehatan jika ada bhakti sosial kesehatan; makan dengan nilai gizi baik karena ada bantuan serta droping pangan, dan seterusnya.
Mereka dihitung, jika tiba saat membutuhkan dukungan suara agar menjadi pemimpin daerah ataupun anggota legislatif. Mereka diperlukan, jika ingin melakukan demonstrasi [plus kerusuhan] melawan pemerintah. Bahkan, jumlah mereka dikurangi karena salah satu ukuran keberhasilan pemerintah adalah berkurangnya masyarakat atau orang miskin. Ataupun, jumlah mereka ditambah karena dipakai oleh kaum oposan [kaum oposisi yang dimaksud adalah orang-orang di luar lingkaran pemerintah] sebagai salah satu tolok ukur ketidakberhasilan serta ketidakbecusan pemerintah mengelola negara.
Sementara itu, andil penguasa wilayah dan nasional [yang sering berkonspirasi dengan pengusaha hitam] untuk meningkatkan pertumbuhan masyarakat miskin pun cukup besar. Berbagai rekayasa jahat, pengusaha [konglomerat hitam] memakai tangan-tangan kotor penguasa untuk membebaskan lahan [dengan alasan pembangunan fasilitas umum] dengan nilai harga di bawah standar. Lahan atau persil dengan mudah berpindah kepemilikan [kepada para penguasa hitam dan jahat], karena pemiliknya [biasanya mereka adalah penduduk asli yang kurang pendidikan] tergiur sejumlah rupiah. Namun, karena ketidakmampuan memanage keuangan, dalam tempo tidak terlalu lama mereka menjadi kaum miskin baru [walau sesaat yang lalu mereka adalah orang kaya baru karena menjual tanah].
Seringkali penguasa dengan slogan politis memerangi kemiskinan, maka siapapun yang mengganggu stabilitas sosial, ekonomi, politik dan keamanan serta pembangunan [akan] dianggap sebagai musuh. Karena itu banyak tanah milik komunitas suku bangsa yang tiba-tiba diperlukan area perkebunan, bandara, lapangan golf, pabrik, dan lain-lain. Ketika mereka [pemilik tanah] mempertahankan kepemilikannya, mereka dianggap sebagai penghambat pembangunan. Demikian juga, penyingkiran terhadap masyarakat, jika wilayah atau di alam bumi pada lokasi tempat tinggal mereka mengandung mineral atau barang tambang lainnya. Banyak masyarakat yang bermukim di tempat yang dianggap salah karena desanya lebih menguntungkan untuk dibangun waduk raksasa. Demikian pula ada masyarakat yang tiba-tiba harus menerima nasib untuk dipindahkan dari wilayah permukimannya, karena tanah mereka lebih cocok untuk proyek [mercu suar] pembangunan, serta tempat latihan perang. Dan tidak sedikit masyarakat kota tadinya berkecukupan tersingkir ke wilayah pinggiran dengan kemiskinan. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya menjadi kaum urban yang mengemis serta mengais-ngais sampah di metropolitan untuk mempertahankan hidupnya.
Di sini, jelas bahwa adanya kaum miskin bukan semata-mata karena sebagai paradoks pembangunan, tetapi juga karena pembiaran-pembiaran pengusaha dan penguasa terhadap keberadaan mereka agar sewaktu-waktu dapat dipakai atau difungsikan sebagai salah satu alat untuk mencapai kedudukan, ketenaran, kekuasaan, serta rencana kejahatan yang tersembunyi.

5. Mereka menjadi miskin karena manajemen keluarga yang buruk
    Pada umumnya, pada masyarakat [kota dan desa] ada orang-orang yang dikategorikan sebagai orang kaya. Dalam arti mereka mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan lainnya. Pada masyarakat desa, kelebihan mereka yang disebut orang kaya antara lain mempunyai beberapa persil tanah, lebih dari satu bidang sawah serta ladang, memiliki puluhan atau ratusan ekor ternak, bahkan mempunyai lebih dari satu isteri. Sedangkan pada masyarakat perkotaan, mereka mempunyai lebih dari satu rumah dan mobil, tabungan dan deposito, pekerjaan yang mapan, dan lain-lain.
Walau mungkin tidak bisa menjadi acuan, penilaian tentang ciri-ciri orang kaya seperti itu, sudah menjadi pandangan umum dalam masyarakat. Namun, sejalan dengan perubahan waktu, keturunan [pada umumnya generasi ketiga dan keempat] orang-orang yang tadinya kaya tersebut ternyata menjadi miskin. Masyarakat atau orang lain yang mengenalnya hanya bisa bercerita dan mengenang orang tua atau kakek dan nenek mereka yang kaya raya.
Mengapa kondisi tersebut bisa terjadi? Hal tersebut terjadi karena keluarga-keluarga kaya itu salah memanage keuangan ataupun harta bendanya. Bisa saja terjadi, anak-anak orang kaya [karena mengandalkan kekayaannya] tidak mau menata diri dengan pendidikan yang baik, akibatnya mereka menjadi orang kaya yang bodoh. Dalam sikon kebodohan itu, mereka tidak mampu mengelola hartanya dengan baik dan benar. Mereka hanya bisa menjual harta benda untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan. Akibatnya dalam kurun waktu tertentu harta benda mereka habis, sehingga lambat laun mereka menjadi miskin

Kang Udin, Penjual Jajanan Pinggiran Yang Terpinggirkan

Kang Udin, Penjual Jajanan Pinggiran Yang Terpinggirkan


Setiap hari lelaki muda ini menaiki kereta KRL ekonomi yang padat dan pengap dari Bogor ke Jakarta hanya untuk menjajakan jajanan “kampung”. Ya…Syarifudin atau Kang Udin biasa dia dipanggil oleh kawan-kawannya hanya menjajakan jajanan pinggiran seperti lepat, uli, tape ketan, kacang rebus, pisang rebus, telur asin, Ubi Rebus dan lain sebagainya.

Menurut Kang Udin, perjalanannya dari Bogor ke Jakarta menggunakan KRL ekonomi sangatlah berat karena disamping sangat padat dan panas dirinya juga membawa dua keranjang pikulan yang berisi jajanan-jajanan yang mau dijual. “Mungkin kalau saya hanya membawa diri tidak membawa keranjang pikulan tidaklah terlalu berat meskipun di kereta KRL ekonomi jurusan Bogor Jakarta sangat padat dan pengap,” jelas Kang Udin.
Perjalanan dengan menggunakan kereta KRL ekonomi dari Bogor ke Jakarta kalau kondisi lancar ditempuhnya hampir 1 jam 30 menit. Menurut Kang Uding perjalanan tersebut sangatlah menguras tenaga karena dia harus berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. ”Apalagi kalau kereta yang saya tumpangi ada gangguan ditengah jalan, panasnya minta ampun,” katanya.
Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan Kang Udin lakoni setiap hari demi mencari rezeki untuk menghidupi keluarganya. Kang Udin Berangkat dari rumahnya di daerah Bogor sekitar pukul 06.00 WIB kemudian menaiki kereta KRL ekonomi Bogor-Jakarta Kota yang berangkat pukul 07-00 WIB.”Bapak mungkin tidak tahu kalau naik kereta KRL ekonomi jurusan Bogor-Jakarta padat banget. Apalagi yang berangkatnya pas dengan jam kerja, penuhnya minta ampun. Sampe-sampe orang banyak yang naik di atap kereta,” jelas Kang Udin.
Menurut Kang Udin, dirinya sengaja naik kereta KRL ekonomi karena ongkosnya murah dan lebih cepat. Selain itu, di kereta KRL ekonomi bukan hanya Kang Udin yang naik tapi teman-teman seprofesinya juga banyak yang naik kereta KRL ekonomi. ”Meskipun naik kerata KRL ekonomi jurusan Bogor-Jakarta pengap, panas dan berdesak-desakan serta sangat melelahkan tapi semua itu tidak terasa karena berangkatnya bersama-sama teman,” kata Kang Udin.
Kang Udin juga perna mengalami nasib yang sial ketika naik kereta KRL ekonomi. Menurut Kang Udin seperti biasanya waktu itu dia hendak berjualan kue ke Jakarta, ketika kereta yang ditumpangi tiba di stasiun Depok dan waktu itu penumpangnya sangat padat serta calon penumpang dari Depok juga banyak maka pas kereta KRL ekonomi berhenti di stasiun Depok berhenti, tiba-tiba pemumpang yang dari Depok berebut merangsek masuk ke dalam kereta kebetulan waktu itu Kang Udin posisinya dekat dengan pintu maka dagangan yang dibawa Kang Udin ikut terinjak-injak oleh penumpang. ”Begitulah suka duka naik angkutan rakyat kecil (red. KRL ekonomi) selain murah, kadang tidak manusiawi,” ungkap Kang Udin.
Jajanan Orang Pinggiran
Menurut Kang Udin kue-kue yang dijajakan Kang Udin juga bukan kue yang harganya mahal, tetapi hanya kue-kue kampung yang biasa dikonsumsi orang-orang kampung. ”Kue yang saya jual cuma kue lepat, kacang rebus, pisang rebus, tape ketan, uli, opak, dan telur asin. Itu semua jajanan orang kampung yang saat ini sudah langka,” jelas Kang Udin.

Kalau di kota orang kampung adalah orang-orang yang terpinggirkan. Biasanya orang-orang pinggiran pekerjaannya kasar-kasar seperti kuli, pedagang asongan, tukang parkir, supir dan sebagainya. ”jadi saya ini adalah orang kampung yang berjualan kue kampung, buat orang-orang kampung,” kata Kang Udin.
Berkaitan dengan harga kue yang realitif murah, Kang Uding mengatakan, Karena yang membeli kue kampung kebanyakan adalah orang-orang kampung yang ekonominya pas-pasan maka harga kue-kuenya juga harga pinggirin. ”Semua kue-kue yang saya jual harganya cuma Rp 1.000,- dan harga ini adalah harga yang pas buat orang-orang kampung,” jelas Kang Udin.

Ketika ditanya apakah keuntunga yang Kang Udin dapat cukup besar? Menurut Kang Udin keuntungan yang dia dapat tidaklah seberapa besar hanya cukup buat makan sehari-hari keluarganya.”Kalau dibilang untungnya besar ya tidak mungkin, karena kue-kue yang saya jual harganya hanya Rp 1.000 tapi kalau hanya buat makan keluarga cukuplah,” kata Kang Udin.
Untuk memperkecil biaya produksi, menurut Kang Udin semua kue-kue yang dijualnya tidak mempergunakana bahan-bahan yang harganya mahal, seperti tepung terigu atau lain-lainya. Kang Udin hanya mengolah hasil dari perkebunan seperti kacang tanah, pada ketan. Cara mengelolanya juga sederhana yaitu hanya direbus dengan menggunakan air. ”Dengan menjual kue-kue yang direbus selain mengirit biaya juga jauh lebih sehat dan alami,”kata Kang Udin.
Selain itu, lanjut Kang Udin jajanan-jajanan yang kang Udin jual dibuat sendiri olehnya dengan dibantu oleh istri. Untuk merebus ubi, pisang, membuat lepat, membuat uli dikerjakannya sejak subuh. ”Nah kalau tape ketan dan telur asin biasanya agak lama karena butuh proses. Kalau telur asin cukup sehari semalam untuk membuatnya asin, kalau tape agak lama yaitu 3 hari untuk proses jadi tapenya,” jelas Kang Udin.
Untuk pemasaran, menurut lelaki asli Bogor ini biasanya dia sendiri yang menjualnya di daerah Jakarta.”Saya biasanya menjual di daerah-daerah Menteng, Gondangdia, Monas, dan Tanahabang. Sengaja saya jual di daerah itu karena daerah seperti Tanahabang misalnya masih banyak orang Betawi asli dan orang-orang kampung,”katanya.
Alasan lain kenapa Kang Udin berjalan di daerah Jakarta, menurutnya karena di Jakarta jajanan atau kue-kue yang dijualnya terbilang langka dan hanya ada pada musim-musim tertentu. Seperti uli dan tape ketan misalnya, hanya ada ketika hari raya idul fitri atau idul adha. ”Padahal pada jaman dulu kue-kue seperti itu menjadi makanan setiap hari orang-orang betawi dan orang-orang Cina. Setiap tempat nongkrong atau ngopi kue-kue ini selalu tersedia,” jelas Kang Udin.
Ketika ditanya kenapa Kang Uding berjualan kue-kue kapung seperti itu? Menurut Kang Udin, selain pekerjaan seperti ini adalah warisan dari orang tua, juga karena mencari pekerjaan di pabrik sangat susah karena selalu mensyaratkan pakai ijazah minimal SMA, sedangkan dirinya hanya mengenyam bangku pendidikan hanya sampai tingkat SMP itupun tidak selesai.
Begitu berat kehidupan Kang Udin, ketika Kota Bogor dan Jakarta telah bergeliat berkembang maju, Kang Udin dan orang tuanya tetap terpinggirkan seakan tidak tersentuh oleh perkembangan dan kemajuan. Profesi yang dia lakoni juga profesi pinggiran dengan menjual kue-kue pinggiran dan dimakan oleh orang-orang yang terpinggirkan. Kapankah nasib Kang Udin bergerak maju secara ajeg, seperti lajunya kereta KRL ekonomi yang setiap hari bergerak maju dari Bogor ke Jakarta yang setiap hari setia mengantarnya untuk berusaha.