SELAMAT DATANG di CATATAN ORANG PINGGIRAN, Blog Khusus Untuk Tempat Men-share Berbagai Kisah & Harapan Orang Pinggiran

Temukan Disini

Tampilkan postingan dengan label Kisah Orang Pinggiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Orang Pinggiran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Juli 2014

Orang Pinggiran

Orang pinggiran oeaeo
ada di trotoar oeaeo
ada di biskota oeaeo
ada di pabrik-pabrik oeaeo

Orang pingiran oeaeo
di terik mentari oeaeo
di jalan becek oeaeo
menyanyi dan menari oeaeo

Lagunya nyanyian hati
tarinya tarian jiwa
seperti tangis bayi di malam hari

Sepinya waktu kala sendiri
sambil berbaring meraih mimpi
menatap langit-langit tak peduli
sebab esok pagi kembali

Orang pinggiran oeaeo
di dalam lingkaran oeaeo
berputar-putar oeaeo
kembali ke pinggiran oeaeo

Lagunya nyanyian hati
tarinya tarian jiwa
seperti tangis bayi di malam hari

Sepinya waktu kala sendiri
sambil berbaring meraih mimpi
menatap langit-langit tak peduli
sebab esok pagi kembali

Orang pinggiran bukan pemalas
orang pinggiran pekerja keras
orang pinggiran tidak mengeluh
orang pinggiran terus melaju

Sabtu, 19 Juli 2014

Si Miskin dan Jasad Anaknya

Si Miskin dan Jasad Anaknya

Seandainya tidak ada hari Minggu, mungkin cerita Supriyono (38) tidak pernah menjadi Headline sebuah koran ibukota. Seandainya, biaya rumah sakit bisa gratis seperti yang dikatakan seorang SBY, cerita Supriyono dan anak bungsunya, Khairunnisa (3), tidak akan pernah terjadi.
Ah, seandainya biaya pemakaman dan harga kain kafan, semurah kita membeli kerupuk, tidak akan a
da Khairunnisa-Khairunnisa lainnya disini. Seandainya dan seandainya Supriyono tahu ini hanyalah mimpi tidur semalam, ia masih bisa mengajak Khairunnisa dan kakaknya, Muriski Saleh (6), jalan-jalan ke sebuah taman.
Minggu pagi memang bukan hari yang indah bagi Supriyono. Setelah lelah mencari sampah seharian, di bawah kolong rel kereta api Cikini, Supriyono terbangun. Ada yang beda di pagi itu, Khairunnisa terlihat nyaman tidur di dalam gerobaknya. Namun, wajahnya yang memutih membuat Supriyono curiga. Ia pun berusaha membangunkan anak bungsunya itu.
Melihat anaknya terbujur kaku. Pikiran, Supriyono melayang, beberapa waktu lalu ia tak jadi membawa Khairunnisa ke rumah sakit. Padahal, saat itu Khairunnisa demam tinggi. Karena uang yang tersisa di kantong cuma Rp 5 ribu, Supriyono cuma berdoa agar anaknya sembuh sendiri. "Saya cuma sekali bawa Khairunnisa ke puskemas, Saya tak punya uang untuk berobat lagi. Saya memulung kardus, gelas dan botol plastik. Penghasilan saya hanya Rp 10 ribu sehari. Saat itu uang saya tinggal Rp 5 ribu. Jika saya berobat, anak saya satu lagi mungkin tidak akan makan," pikir Supriyono.
Belum selesai pikirannya melayang. Supriyono kembali menangis. Duit di saku cuma Rp 6 ribu. Tak mungkin untu membeli kain kafan, menyewa ambulans dan biaya pemakaman. Sementara itu
Khaerunisa masih terbaring di gerobak.
Namun, kali ini ia tak mau mengecewakan anak gadisnya itu. "Bapak akan buat pemakaman seperti orang lainnya untukmu nak," ucap Supriyono dalam hati.
Ia pun langsung mengajak Muriski berjalan membawa gerobok berisi jenazah Khairunnisa ke Stasiun Tebet. Naik kereta api, Supriyono berniat menguburkan Khairunnisa di kampung pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.
Dengan bermodalkan sarung lusuh, Supriyono membungkus jenazah Khairunnisa. Dengan kaus warna putih yang biasa ia pakai, Supri menutupi kepala Khaerunnisa.
Namun, Kisah sedih Supriyono belum selesai disini. Begitu Supriyono masuk ke stasiun, orang-orang yang ada di stasiun langsung mengerubunginya. Ia dicurigai telah berbuat yang tidak-tidak pada Khairunnisa. Akhirnya, ia pun digelandang ke Polsek Tebet bersama anaknya Muriski.
Terpaksa Supriyono meladeni pertanyaan-pertanyaan aneh yang dilayangkan polisi. Ia tidak mengerti, kenapa polisi tidak ada yang bertanya apa yang dapat mereka bantu kepadanya. Seandainya mereka semua itu bisa membantu. Bukannya mengirimkan Supriyono ke RSCM.
Di RSCM cerita Supriyono dan Khairunnisa terus berlanjut. Dengan alasan otopsi, pihak RSCM mau menahan Khairunnisa. Mendengar itu, Supriyono marah, ia tidak mau anaknya dibelah-belah hanya untuk kepentingan medis. Ia pun ngotot membawa Khairunnisa keluar.
Hingga Pukul 16.00 WIB, Supriyono baru bisa mengeluarkan Khairunnisa. Lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans. Supri dan Muriski terpaksa berjalan kaki sambil menggendong jenazah Khairunnisa.
Sepanjang jalan, warga yang iba memberikan uang sekedarnya untuk ongkos perjalan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum dan makanan sebagai bekal Supri dan Muriski ke Bogor.
Hingga kini aku tidak pernah tahu, apakah Supri dan Muriski berhasil memakamkan ke Khairunnisa ke Bogor. Masih berlanjutkah kisah sedih ini? Jujur, aku tak mau cerita ini bersambung , baik bagi Supri atau ribuan orang-orang miskin lainnya yang ada di sini. Cukup sudah Khairunnisa, jangan ada yang lainnya..

Senin, 14 Juli 2014

Catatan Orang Pinggiran Tentang Kejanggalan Adira Finance

Catatan Orang Pinggiran Tentang Kejanggalan Adira Finance

Selamat Malam...
Saya ingin menuliskan sedikit kisah saya sebaga orang pinggiran yang merasa sangat tertindas.
Ini merupakan pengalaman pertama saya berhadapan dengan jagoan-jagoan orang besar.

Oh ya,
sebelumnya perkenalkan,
nama saya Alex, tinggal di pinggiran Kota Pematang Siantar.
Pekerjaan sehari-hari saya hanyalah seorang buruh tani harian lepas, disamping bertani di ladang orang dengan sistim sewa lahan.
Pekerjaan lain saya, dulunya saya pernah maragat(menyadap nira).

Kisah ini bermula ketika saya membeli sebuah sepeda motor honda Revo Fit seharga Rp.12.000.000,- dengan cara kredit.
Leasing yang menjadi tempat menghutang saya adalah sebuah lembaga pembiayaan yang sudah sangat terkenal di santero jagad raya Indonesia, namanya PT. Adira Finance.
Dengan DP Rp. 1.000.000,-,  saya membayar cicilan Rp. 483.000,- dengan jangka waktu 36 bulan.
Sejak angsuran pertama hingga angsuran ke enam, saya masih bisa membayar angsuran tepat waktu
Masalah muncul ketika tiba pembayaran angsuran ke-7 hingga berikutnya, dimana saat itu musim kemarau yang cukup lama, membuat mata pencarian saya drastis menurun.
Bukan hanya saya, orang-orang di sekitar saya pun turut demikian, dimana tanaman yang mereka tanam mati kekeringan akibat musim yang tak bersahabat itu.
Akibat dari penurunan penghasilan saya, cicilan saya pun jadi terlambat pembayarannya sampai angsuran yang ke-9.

Masalah besar pun tiba.
Setelah tiba jatuh tempo pembayaran angsuran yang ke-10, saya belum bisa membayar angsuran, dan berlanjut hingga ke angsuran ke-12, akhirnya saya nunggak 3 bulan.
Pihak adira pun datang ke rumah mengatakan agar saya membayar cicilan yang tertunggak selama 3 bulan.
Setelah pinjam sana pinjam sini saya bisa mendapatkan uang sebesar Rp. 500.000,-, dan saya pun berniat membayarkan tunggakan, walau hanya 1 angsuran dulu.
Saya pun pergi ke Kantor Adira(karna saya tak bisa lagi bayar lewat kantor Pos/sudah diblokir-katanya), dan setelah melalui antrian yang cukup lama, akhirnya saya diterima oleh kasir Adira yang menurut saya cukup cantik(tapi tak tau hatinya bagaimana, mudah-mudahan cantik juga).

Setelah kasir memeriksa ID saya di database-nya, kasir tersebut mengatakan kalau saya tak bisa lagi membayar cicilan kalau hanya 1 angsuran saja, melainkan harus membayar 3 angsuran sekaligus di+lagi dengan BOP(Biaya Operasional Preman<menurut saya), dan dia pun memberikan sebuah nomor Hp 085370711528 a/n Marican Sinaga.
Saya pu menghubungi nomor ponsel tersebut dan janjian ketemuan di depan Siantar Hotel Pematang siantar untuk membahas masalah tunggakan cicilan saya.
Saya pun meluncur dari Kantor Adira ke tempat yang ditujukan.
Setelah sampai disana, saya tidak bisa ketemu sama dia, melainkan dia hanya  menyuruh 2orang anggotanya menemui saya, tapi seblumya anggotanya tersebut sempat menghubungi saya dengan nomor 082166228243 yang baru kemudian saya tau namanya Desnan Sinaga. Mereka 2 orang, yang satunya Marga Sinaga juga, tapi saya belum tau namanya.

Setelah ketemu, kami ngobrol panjang lebar tentang upaya jalan keluar masalah tunggakan angsuran saya. Tapi tak menemukan solusi yang tepat, karena mereka hanya memberikan 2 pilihan, yakni;

1. Saya harus membayar 3 angsuran sekaligus di+BOP Rp. 500.000,-, pada saat itu juga,
2. Sepeda motor saya harus dititipkan katanya di kantor Adira.

Dengan pilihan yang sangat menyulitkan, saya mencoba memohon agar saya pulang dulu ke rumah untuk mencari tambahan pinjaman lagi dari tetangga maupun keluarga, akan tetapi mereka tak memperbolehkan saya mengendarai sepeda motor saya alias mereka harus menahannya.
Otomatis saja saya tak rela kalau sepeda motor kesayangan saya dibawa kabur oleh orang yang gak jelas begitu. Dan saat itu juga terjadilah adu mulut di tempat keramaian tersebut, dan mereka membentak-bentak kalau sepeda motor itu bukanlah kepunyaan saya karna saya tak bisa menunjukkan BPKBnya, Padahal di STNK jelas-jelas tertulis atas nama dan sesuai dengan KTP saya. Mereka semakin mengganas yang akhirnya membuat saya merasa malu karena terlibat keributan di tempat umum.

Mengalah dengan Pilihan pertama, saya mencoba pilihan ke-2, motor saya dititipkan di Kantor Adira.
Masalah pun kembali muncul karna saya tidak dipebolehkan mengendarai sepeda motor saya sendiri pergi ke Kantor Adira untuk menitipkannya, harus merekalah yang mengendarainya.
Kejadian ini menurut saya sangatlah janggal, Kenapa Saya Tak Boleh Membawanya Kesana? Mengapa Harus Mereka?
Saya sudah menawarkan agar salah satu dari mereka ikut dengan saya, agar mereka tidak menyangka kalau saya mau melarikan sepedamotor saya sendiri, tapi mereka tetap ngoton Harus mereka yang membawa swpeda motor saya, tidak boleh saya, Akibatnya keributan pun tak terelakkan.
Untung saja ada petugas keamanan disana yang membantu, agar saya bisa bisa membawa sepeda motor saya sendiri dan membonceng salah satu dari mereka ke tempat penitipan di Kantor Adira.

Kami pun meluncur ke Kantor Adira, namun, kejanggalan pun terjadi lagi. Selama perjalanan, saya diinstruksikan ontu membawa sepeda motor tersebut ketempat BIGBOSSnya, alias Marican Sinaga tersebut. Saya pun tak mengindahkannya, karena menurut saya tujuan kami adalah ke Kantor Adira.
Setelah sampai di depan Kantor Adira, Mereka pun tak memperbolehkan saya masuk ke dalam kantor tersebut sebelum BIGBOSSnya datang.
Tapi saya tak mengindahkannya juga, saya langsung masuk ke dalam kantor dan menanyakan pihak adira perihal penitipan sepedamotor tersebut. Tapi Apa yang saya dapatkan disana, mereka mengatakan tak ada penitipan di kantor.
Saya pun keluar dan bertanya kepada yang saya bonceng tadi, apa tujuan mereka yang sebenarnya.
Tapi mereka pun bekilah, saya diajak masuk kedalam untuk menandatangani surat penitipan, tapi yang lebih janggal lagi, surat penitipan itu dibuat dengan tulisan tangan dan ditandatangani tanpa materai.
Saya pun jadi lebih bingung lagi dan bertanya-tanya, Apakah Sebuah Perusahaan Besar Adira Finance tidak Memiliki Komputer atau minimalnya mesin ketik manual intuk mengetikkan surat penitipan...? Apakah Perusahaan tidak memiliki materai untuk untuk surat seperti itu...?

Akhirnya saya keluar lagi dari kantor itu dan pergi ke kantor polisi untuk meminta perlindungan, tapi polisipun seakan-akan tak menghiraukan saya,karena saya memang benar punya hutang ke adira.
Setelah saya kembali dari kantor polisi dan membawa seorang petugas polisi ke depan Kantor Adira tersebut, kedua orang tadi tidak ada lagi disitu, dan sepeda motor saya mereka percayakan kepada satpam adira agar saya tidak bisa membawanya pulang, padahal saya juga sudah merelakan sepeda motor saya untuk dititipkan di adira, daripada dibawa oleh kedua preman tadi.
Dengan disaksikan oleh seoran Anggota Polisi, akhirnya saya pu menitipkan sepeda motor saya kepada satpam adira yang tugas saat itu.

Karna hari sudah malam, saya pun tak bisa pulang ke kampung karena angkutan sudah tidak ada lagi.
Saya bermalam di rumah kerabat yang di Pematang Siantar dan mulai pinjam uang sama keluarga sana-sini via telepon, namun tak berhasil.
Malam itu saya tak bisa tidur karna memikirkan uang Rp. 1.500.000,- lagi harus saya pinjam darimana dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Hhingga pagi hari adik saya menelopon saya dan mengatakan kalau orang tua saya telah bisa mendapatkan pinjaman.
Mereka pun mengirimkan uang tersebut ke saya via Wessel Pos Instan.
Setelah uangnya saya terima, saya pun menuju Kantor Adira untuk membayar Tunggakan yang 3 bulan + BOP(Biaya Operasional Preman-menurut saya), tapi pihak adira menyuruh saya untuk menghubungi si BOGBOSS Preman tadi alias si Marican Sinaga di 085370711528.
Setelah saya menghubungi nomor tersebut, si Marican Sinaga tadi mala menyuruh saya untuk koordinasi dulu dengan kedua anggotanya yang bermarga Sinaga itu.
Saya pun merasa sangat jengkel, kenapa untuk membayar hutang saja susahnya minta ampun...?...

Akhirnya saya pun menghubungi kedua anggotanya, dan anggotanya pun mengatakan kalau sekarang tak bisa lagi kalau BOPnya cuma Rp.500rb, tapi harus Rp.3.jt.
Mendengar harus Rp.3jt saya langsung emosi, dan kembali ke kantor adira untuk meyetorkan langsung tunggakan yang 3 bulan + BOP. Tapi sepertinya pihak adira tetap saja ingin mempersulit saya, karena saya disuruh untuk menunggu kedatangan Marican Sinaga CS yang sudah 1jam lebih saya tunggu tapi tak datang-datang juga.
Akhirnya saya merasa sangat kecewa dan jengkel sekali. Saya jadi naik pitam di kator itu, dan akhirnya pembayaran saya diterima oleh pihak adira dengan menggunakan kwitansi manual, karena pada saat iti sedang jam istirahat dan kasir adira sedang istirahat juga.

Saya merasa sedikit lega karena pembayaran saya hanya angsuran 3 bulan + BOP(Biaya operasional preman-menurut saya) Rp.500rb, bukan 3jt seperti yang dikatakan marga Sinaga tadi.

Demikianlah sepenggal kisah saya sebagai serang yang terpinggirkan, dan harapan saya, dengan dimuatnya tulisan saya ini, semoga pihak-pihak terkait dalam hal ini PT. Adira Finance mulai memperbaiki perilaku jeleknya(menurut saya), dengan tidak melibatkan preman dalam urusannya.

Dan kepada admin CATATAN ORANG PINGGIRAN, tak lupa saya ucapkan terima kasih.

Minggu, 13 Juli 2014

Kirim Kisah

Bagi Sahabat sekalian yang ingin berbagi kisah maupun harapan di blog CATATAN ORANG PINGGIRAN ini, silahkan kirim kisah anda melalui e-mail ke anakpinggiranmail.kirimkisah@blogger.com .
Dengan senang hati saya akan segera mempublikasikan kiriman Sahabat-sahabat sekalian di blog CATATAN ORANG PINGGIRAN yang sangat sederhana ini.
Atas partisipasi Sahabat-sahabat sekalian, tak lupa saya ucapkan banyak Terima Kasih.

Salam,
CATATAN ORANG PINGGIRAN
Anak Pinggiran.

Kamis, 10 Juli 2014

Pengalaman Orang Pinggiran

Suatu siang ditengah gerimis yang mengguyur pinggiran kota jakarta, tampak kesibukan yang luar biasa diperempatan jalan. Bunyi klakson motor dan mobil yang saling bersahutan menambah keadaan menjadi lebih hingar bingar. Wajah-wajah suntuk penuh kekesalan hampir terlihat disetiap orang yang lewat diperempatan itu. Umpatan-umpatan sesama pengguna jalan yang saling bersenggolan menjadi pemandangan biasa dan beceknya jalan karena gerimis seakan menjadi klimaks ruwetnya jalanan itu. Sementara petugas pengatur jalan, seolah hanya bisa pasrah menerima keadaan yang hampir tiap hari terjadi.

Ini semua terjadi gara-gara perbaikan jembatan yang tak kunjung selesai. Entah apa masalahnya, sampai jembatan ini terbengkalai. Padahal ini adalah akses yang cukup strategis, karena menjadi salah satu jalan alternatif untuk menembus pusat kota jakarta. Tapi apapun masalahnya, yang jelas kami rakyat kecil yang menjadi korban. Hampir tiap hari kami dipaksa menikmati keadaan ini. Jenuh, bosan dan jengkel, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Sejujurnya kami ingin bertanya, tapi kepada siapa? Ingin rasanya mengadu tapi tidak tahu harus kemana.

Pernah sekali waktu jalan ini lancar, lengang malah. Tapi rupanya itu terjadi manakala ada pejabat yang mau lewat. Namun jika pejabat berlalu, macet kembali menghampiri. Bahkan lebih parah. Terus kapan kami bisa menikmati perjalanan tanpa hambatan? Lalu kapan kami bisa melihat jalanan sepi?
Kami ini memang hanya orang kecil, yang sedang mengais rejeki dipinggiran kota Jakarta. Karena kami memang hanya orang pinggiran. Tapi, apa kami tidak boleh menikmati jalanan tanpa macet? apa hanya para pejabat saja yang berhak menikmatinya.

Sudahlah…iklaskan saja, memang begitu nasib rakyat kecil.
Sudahlah…ikhlaskan saja, memang begitu nasib orang pinggiran .
Sudahlah…ikhlaskan saja, ikhlaskan saja…

PENJUAL SENDOK BEKAS

PENJUAL SENDOK BEKAS 
“Jang  abdi bade nyandak sendok,  manawi aya?” kata Omah. “Tos  seep ma, da tos di candak ka tonggoh ka ditu”  jawab bandar  barang bekas  “Oh nya wios atuh abi milarian deui kanu sanes” tutur Omah dengan  wajah sedih.
Bukan baru kali ini saja pencarian Omah berakhir dengan tangan hampa. Wajar saja mencari sendok bekas tak seperti mencari sampah plastic yang melimpah. Wanita 70 th ini  sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. “atuh teu aya nu miwarang ngicalan mah ngngur we sadinten sadinten teh, kadang2 menak emam kadang2 henteu malihan mah sok dipasihan ku tatangi” . seminggu sampai dua mingu sekali yang Omah lakukan memanglah berkeliling ke bandar2 barang bekas yang ada di kampungnya. Masih ada harapan, ada satu tempat lagi yang biasa Omah datangi. Mudah2han kali ini Omah lebih beruntung.
Jang Adang  “kulan” “ ieu bade setoran anu kamari” “uhun”, tah ayeuna bade nyandak deui, aya teuaya?”” aya ma ngan can di ieu ku abi teh can dipilihan sok we lah ema milihan nyalira”
Ia masih memiliki utang setoran sisa penjualan minggu lalu. Kali ini Omah Maryam,ah bias sedikit lega ada keeping keeping sendok diantara tumpukan sampah dan loakan. Beberapa piring kaleng ini juga sangat berguna bagi dirinya, keperadaan kepingan sendok dan piring bekas ini memang begitu berharga bagi Omah. Menemukannya layaknya melihat emas. Barang bekas ini nantinya bias ia jual untu enyambung hidup bersama sang anak di rumah. Terakhir kali omah mengumpulkan sendo pada minggu yang lalu. Jeda waktu seminggu kiranya cukup untuk membuat sendok bekas terkumpul lagi.omah tak bisa menjualnya perbiji, ia harus mengumpulkan paling tidak satu lusin  hingga bisa dijual kembali. Jika terlalu cepat paling2 sendok yg tersedia hnya beberapa potong saja pekerjaan omah memang tak biasa tak banyak orang yg terpikir menjual sendok bekas seperti yang dilakukan Omah.
“dulunya pertamanya suka ngambil yang ginian kan rongsokan,  cumin dia kasian lalu saya tawarin itu sendok jual sendok, ambil dulu kemudian kaqlau udah laku baru bayar”
Dahulu omah memang pernah mengumpulkan sampah plastiknamun karena fisiknya yg semakin menua omah tak kuat l;agi keliling kampong mencari onggokan sampah beks kemasan air minum sementara hasilnya sangat tak serbanding. Mengumpulkan samoah plastic jelas mengharuskan Omah berkali kli menunduk sepanjang jalan tiap kali ingin mengambil sampah “ henteu da ahh teu kiat atuh da ieu na ,,angkatna, ieu sok nyeri cangkeng upami angkat lmi2 the, teras we nyri dikituan  kadang2 nju mapah teh .
Menjual sendok ebenarnya tak bisa dibilang enteng namun paling tidak rasa lelah yang diakibatkan masih bisa omah tangani inipuntak bisa setiap hari ia menjual sendok, sesekali saja saat persediaan sendok sudah banyak terkumpul. Henteu, ikadang2 samingu sakali, kadang2 samingon teu icalan. Ada kalanya sang Bandar barang loakan ini yang mengumpulkan sendok di suatu tempat naming sering kali omah sendiri yang harus mencari dan mengumpulkan .  ditempat ini belasan pemulung menyetorkan

Umairoh, Bocah Yatim Piatu Pengais Tepung Tapioka

Umairoh, Bocah Yatim Piatu Pengais Tepung Tapioka

13344728402088989823
Kemarin siang  saya bersama 3 orang teman mengunjungi sebuah tempat wisata di kawasan New Territories Hong Kong. Semula rencana yang sudah kami susun 3 hari sebelumnya ini hanya semata-mata ingin melihat pagoda yang juga berfungsi sebagai aviary di Yuen Long’s Park yang cukup terkenal itu. Tetapi tujuan semula untuk “bersenang-senang” di sana akhirnya kami ubah dengan adanya misi mencari donatur untuk Iroh.
Siapakah Iroh? Perkenanlah di sini saya akan bercerita tentang kerasnya perjuangan bocah yatim piatu untuk bertahan hidup. Cerita bermula dari teman saya sesama TKW. Namanya Mbak Maya. 3 hari yang lalu, Mbak Maya menelpon saya. Karena selama ini dia mengetahui aktifitas saya yang suka menulis di Kompasiana, kali ini dia meminta kesediaan saya untuk menuliskan kisah Iroh.
Umairoh atau yang biasa dipanggil Iroh ini adalah tetangga dari Mbak Maya di kampung. Kebetulan Mbak Maya ini juga berasal dari kabupaten yang sama dengan saya yaitu Pati, Jawa Tengah. Diceritakan oleh Mbak Maya, bahwa saat ini suami beliau (Bapak Muhammad Sofwan) di kampung halamannya tengah gencar menggalang dana untuk turut meringankan beban hidup yang ditanggung Umairoh.
Dan melalui percakapan via telepon itu, Mbak Maya mengungkapkan bahwa kisah Iroh telah ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi. Tepatnya pada hari Selasa tanggal 10 April yang lalu. Adalah stasiun televisi Trans7 melalui program acara “Orang Pinggiran” menayangkan kisah “Umairoh Bocah Pengais Tepung”. Begitu info itu saya dapatkan sayapun lantas mencari videonya di Youtube.
Menyimak tayangan itu membuat saya benar-benar menitikkan air mata. Maka siang tadi, kami berempat sepakat untuk melakukan aksi “penggalangan dana” untuk Umairoh. Rencananya dana yang terkumpul akan kami serahkan kepada Umairoh bulan depan. Dana tersebut akan diserahkan langsung kepada Umairoh melalui teman saya yang kebetulan akan pulang ke Tanah Air karena habis masa kontrak kerjanya (Wahyu Retno Asih).
Maka meluncurlah kami ke Yuen Long. Di sana kami bergabung dengan Ibu Binah yang merupakan anggota dari Forum Silaturrahim Muslimah (FSM Bersatu)-sebuah forum pengajian ibu-ibu TKW. Dimana sebelumnya, Mbak Maya sudah mengkoordinasikan masalah penggalangan dana dengan beliau. Dengan bantuan Ibu Binah inilah kami mencoba mengetuk hati para TKW yang sedang berlibur di areal tempat wisata Yuen Long’ Park.
Metode yang kami gunakan untuk menarik perhatian dari teman-teman adalah dengan memutarkan tayangan video “Orang Pinggiran” yang berjudul “Umairoh Bocah Pengais Tepung” melalui Youtube. Mbak Maya juga memberi uraian bahwa setting pengambilan gambar untuk program acara dari Trans7 tersebut diambil di pelataran rumah mertua-nya.
Sebagian dari ibu-ibu yang turut menyaksikan video tersebut tampak larut dalam kesedihan. Mereka bisa merasakan betapa berat beban hidup yang dirasakan Umairoh. Alhamdulillah dari kegiatan tadi siang, kami bisa mengumpulkan sejumlah uang untuk kami serahkan kepada Umairoh. Insyaallah untuk minggu-minggu ke depannya, kami juga akan melakukan hal yang sama.

Gambaran Masyarakat Pinggiran

Gambaran Masyarakat Pinggiran



Menelusuri sumber kemunculan kaum miskin merupakan sesuatu yang cukup kompleks; ada beberapa catatan yang bisa menjadi acuan tentang adanya kaum miskin dengan kemiskinannya [terutama di Indonesia], yaitu:

1. Mereka ada karena angka kelahiran yang tinggi
    Kelompok masyarakat yang tidak maju [untuk sementara kita memakai kaca mata kemajuan] sering disebut kaum miskin yang sarat dengan kemiskinan. Kaum miskin [plus kemiskinan] ini juga mengalami pertumbuhan dengan pesat atau bertambah banyak jumlahnya [terutama karena angka kelahiran yang tingi]. Angka kelahiran kaum miskin di negara-negara dunia ketiga [termasuk pada wilayah-wilayah tertentu di Indonesia] yang tinggi, pada konteks tertentu, tidak seimbang dengan tingkat kematian. Pertumbuhan kaum miskin yang sangat pesat ini terjadi hampir semua lokasi atau tempat mereka berada. Dengan demikian, pada umumnya mereka [kaum miskin] hampir tidak mempunyai apa-apa selain anak [anak-anak]; karena mereka tidak banyak berbuat apa-apa, selain prokreasi dan reproduksi.

2. Mereka tetap miskin karena menutup diri dari pengaruh luar
    Tatanan serta keteraturan suatu komunitas masyarakat [di lokasi komunitas itu] merupakan warisan secara turun-temurun. Dan jika komunitas itu mempunyai kontak dengan yang lain, maka akan terjadi saling meniru kemudian masing-masing mengembangkan hasil tiruan itu sesuai dengan sikonnya. Dengan itu, dapat dipahami bahwa hubungan sosial [antar manusia, dan antar masyarakat] bersifat mempengaruhi satu sama lain. Namun, tidak menutup kemungkinan, walau terjadi interaksi, ada kelompok atau komunitas masyarakat [karena situasi tertentu] yang tidak mengembangkan diri, sehingga tetap berada pola-pola hidup dan kehidupan statis. Akibatnya, mereka tidak mengalami kemajuan yang berarti; [sekali lagi, dengan kaca mata kemajuan], mereka tetap dalam keberadaanya yaitu kemiskinan.

3. Mereka tercipta karena korban ketidakadilan para pengusaha
    Kemajuan sebagian masyarakat global [termasuk Indonesia] yang mencapai era teknologi dan industri ternyata tidak bisa menjadi gerbong penarik untuk menarik sesamanya agar mencapai kesetaraan. Para pengusaha teknologi dan industri tetap membutuhkan kaum miskin yang pendidikannya terbatas untuk dipekerjakan sebagai buruh. Dan dengan itu, karena alasan kurang pendidikan, mereka dibayar di bawah standar atau sangat rendah, serta umumnya, tanpa tunjangan kesehatan, transportasi, uang makan, dan lain sebagianya.
Para buruh tersebut harus menerima keadaan itu karena membutuhkan nasi dan pakaian untuk bertahan hidup. Akibatnya, menjadikan mereka tidak mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Secara langsung, mereka telah menjadi korban ketidakadilan para pengusaha [konglomerat] hitam yang sekaligus sebagai penindas sesama manusia dan pencipta langgengnya kemiskinan. Para buruh [laki-laki dan perempuan] harus menderita karena bekerja selama 12 jam per hari [bahkan lebih], walau upahnya tak memadai. Kondisi buruk yang dialami oleh para buruh tersebut juga membuat dirinya semakin terpuruk di tengah lingkungan sosial kemajuan di sekitarnya [terutama para buruh migran pada wilayah metropolitan].
Sistem kerja yang hanya mengutamakan keuntungan majikan, telah memaksa para buruh untuk bekerja demikian keras. Sehingga kehidupan yang standar, wajar dan normal, yang seharusnya dialami oleh para buruh, tidak lagi dinikmati oleh mereka. Fisik dan mental para buruh [yang giat bekerja tetapi tetap miskin], telah dipaksa menjadi bagian dari instrumen mekanis. Mereka dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan irama, kecepatan dan ritme mesin-mesin pabrik dan ritme bising mesin otomotif; mesin-mesin itu, memberikan perubahan dan keuntungan pada pemiliknya, namun sang buruh tetap berada pada kondisi kemiskinan. Dengan tuntutan itu, mereka tak memiliki kebebasan, kecuali hanya untuk melakukan aktivitas pokok makhluk hidup [makan, minum, tidur], di sekitar mesin-mesin yang menjadi tanggungjawabnya.

4. Mereka tetap ada karena adanya pembiaran-pembiaran yang dilakukan oleh penguasa dan   
    pengusaha
    Sikon hidup dan kehidupan komunitas masyarakat [mereka yang tersisih dan tertinggal] miskin diperparah lagi dengan tanpa kesempatan memperoleh pendidikan, tingkat kesehatan rendah, serta berbagai keterbatasan dan ketidakmampuan lainnya.
Mereka ada di mana-mana, pada daerah terpencil, di tepi-tepi pantai, pinggiran kali dan rel kereta api, bahkan wilayah-wilayah atau daerah-daerah kumuh di perkotaan. Kompleksitas masyarakat miskin seperti itu, sengaja dibiarkan begitu saja oleh para penguasa dan pengusaha agar tetap terjadi suatu ketergantungan. Jika ada bencana alam, mereka dibutuhkan agar bisa melakukan charity advertenrial, atau tindakan bantuan sosial yang mengandung nilai iklan bahwa sang pemberi bantuan sebagai orang baik hati serta mempunyai kepedulian kepada kaum miskin [misalnya, jika terjadi bencana [tsunami, banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran]. Perhatian kepada kaum miskin yang hanya berupa charity advertenrial ini, bisa dan biasa dilakukan oleh pejabat, penguasa, tokoh agama, politik, artis, dan lain sebagainya. Dengan itu menghasilkan kaum miskin yang tetap menengadah tangan untuk meminta belaskasihan akibat penderitaannya. Mereka memeriksa kesehatan jika ada bhakti sosial kesehatan; makan dengan nilai gizi baik karena ada bantuan serta droping pangan, dan seterusnya.
Mereka dihitung, jika tiba saat membutuhkan dukungan suara agar menjadi pemimpin daerah ataupun anggota legislatif. Mereka diperlukan, jika ingin melakukan demonstrasi [plus kerusuhan] melawan pemerintah. Bahkan, jumlah mereka dikurangi karena salah satu ukuran keberhasilan pemerintah adalah berkurangnya masyarakat atau orang miskin. Ataupun, jumlah mereka ditambah karena dipakai oleh kaum oposan [kaum oposisi yang dimaksud adalah orang-orang di luar lingkaran pemerintah] sebagai salah satu tolok ukur ketidakberhasilan serta ketidakbecusan pemerintah mengelola negara.
Sementara itu, andil penguasa wilayah dan nasional [yang sering berkonspirasi dengan pengusaha hitam] untuk meningkatkan pertumbuhan masyarakat miskin pun cukup besar. Berbagai rekayasa jahat, pengusaha [konglomerat hitam] memakai tangan-tangan kotor penguasa untuk membebaskan lahan [dengan alasan pembangunan fasilitas umum] dengan nilai harga di bawah standar. Lahan atau persil dengan mudah berpindah kepemilikan [kepada para penguasa hitam dan jahat], karena pemiliknya [biasanya mereka adalah penduduk asli yang kurang pendidikan] tergiur sejumlah rupiah. Namun, karena ketidakmampuan memanage keuangan, dalam tempo tidak terlalu lama mereka menjadi kaum miskin baru [walau sesaat yang lalu mereka adalah orang kaya baru karena menjual tanah].
Seringkali penguasa dengan slogan politis memerangi kemiskinan, maka siapapun yang mengganggu stabilitas sosial, ekonomi, politik dan keamanan serta pembangunan [akan] dianggap sebagai musuh. Karena itu banyak tanah milik komunitas suku bangsa yang tiba-tiba diperlukan area perkebunan, bandara, lapangan golf, pabrik, dan lain-lain. Ketika mereka [pemilik tanah] mempertahankan kepemilikannya, mereka dianggap sebagai penghambat pembangunan. Demikian juga, penyingkiran terhadap masyarakat, jika wilayah atau di alam bumi pada lokasi tempat tinggal mereka mengandung mineral atau barang tambang lainnya. Banyak masyarakat yang bermukim di tempat yang dianggap salah karena desanya lebih menguntungkan untuk dibangun waduk raksasa. Demikian pula ada masyarakat yang tiba-tiba harus menerima nasib untuk dipindahkan dari wilayah permukimannya, karena tanah mereka lebih cocok untuk proyek [mercu suar] pembangunan, serta tempat latihan perang. Dan tidak sedikit masyarakat kota tadinya berkecukupan tersingkir ke wilayah pinggiran dengan kemiskinan. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya menjadi kaum urban yang mengemis serta mengais-ngais sampah di metropolitan untuk mempertahankan hidupnya.
Di sini, jelas bahwa adanya kaum miskin bukan semata-mata karena sebagai paradoks pembangunan, tetapi juga karena pembiaran-pembiaran pengusaha dan penguasa terhadap keberadaan mereka agar sewaktu-waktu dapat dipakai atau difungsikan sebagai salah satu alat untuk mencapai kedudukan, ketenaran, kekuasaan, serta rencana kejahatan yang tersembunyi.

5. Mereka menjadi miskin karena manajemen keluarga yang buruk
    Pada umumnya, pada masyarakat [kota dan desa] ada orang-orang yang dikategorikan sebagai orang kaya. Dalam arti mereka mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan lainnya. Pada masyarakat desa, kelebihan mereka yang disebut orang kaya antara lain mempunyai beberapa persil tanah, lebih dari satu bidang sawah serta ladang, memiliki puluhan atau ratusan ekor ternak, bahkan mempunyai lebih dari satu isteri. Sedangkan pada masyarakat perkotaan, mereka mempunyai lebih dari satu rumah dan mobil, tabungan dan deposito, pekerjaan yang mapan, dan lain-lain.
Walau mungkin tidak bisa menjadi acuan, penilaian tentang ciri-ciri orang kaya seperti itu, sudah menjadi pandangan umum dalam masyarakat. Namun, sejalan dengan perubahan waktu, keturunan [pada umumnya generasi ketiga dan keempat] orang-orang yang tadinya kaya tersebut ternyata menjadi miskin. Masyarakat atau orang lain yang mengenalnya hanya bisa bercerita dan mengenang orang tua atau kakek dan nenek mereka yang kaya raya.
Mengapa kondisi tersebut bisa terjadi? Hal tersebut terjadi karena keluarga-keluarga kaya itu salah memanage keuangan ataupun harta bendanya. Bisa saja terjadi, anak-anak orang kaya [karena mengandalkan kekayaannya] tidak mau menata diri dengan pendidikan yang baik, akibatnya mereka menjadi orang kaya yang bodoh. Dalam sikon kebodohan itu, mereka tidak mampu mengelola hartanya dengan baik dan benar. Mereka hanya bisa menjual harta benda untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan. Akibatnya dalam kurun waktu tertentu harta benda mereka habis, sehingga lambat laun mereka menjadi miskin

Kang Udin, Penjual Jajanan Pinggiran Yang Terpinggirkan

Kang Udin, Penjual Jajanan Pinggiran Yang Terpinggirkan


Setiap hari lelaki muda ini menaiki kereta KRL ekonomi yang padat dan pengap dari Bogor ke Jakarta hanya untuk menjajakan jajanan “kampung”. Ya…Syarifudin atau Kang Udin biasa dia dipanggil oleh kawan-kawannya hanya menjajakan jajanan pinggiran seperti lepat, uli, tape ketan, kacang rebus, pisang rebus, telur asin, Ubi Rebus dan lain sebagainya.

Menurut Kang Udin, perjalanannya dari Bogor ke Jakarta menggunakan KRL ekonomi sangatlah berat karena disamping sangat padat dan panas dirinya juga membawa dua keranjang pikulan yang berisi jajanan-jajanan yang mau dijual. “Mungkin kalau saya hanya membawa diri tidak membawa keranjang pikulan tidaklah terlalu berat meskipun di kereta KRL ekonomi jurusan Bogor Jakarta sangat padat dan pengap,” jelas Kang Udin.
Perjalanan dengan menggunakan kereta KRL ekonomi dari Bogor ke Jakarta kalau kondisi lancar ditempuhnya hampir 1 jam 30 menit. Menurut Kang Uding perjalanan tersebut sangatlah menguras tenaga karena dia harus berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. ”Apalagi kalau kereta yang saya tumpangi ada gangguan ditengah jalan, panasnya minta ampun,” katanya.
Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan Kang Udin lakoni setiap hari demi mencari rezeki untuk menghidupi keluarganya. Kang Udin Berangkat dari rumahnya di daerah Bogor sekitar pukul 06.00 WIB kemudian menaiki kereta KRL ekonomi Bogor-Jakarta Kota yang berangkat pukul 07-00 WIB.”Bapak mungkin tidak tahu kalau naik kereta KRL ekonomi jurusan Bogor-Jakarta padat banget. Apalagi yang berangkatnya pas dengan jam kerja, penuhnya minta ampun. Sampe-sampe orang banyak yang naik di atap kereta,” jelas Kang Udin.
Menurut Kang Udin, dirinya sengaja naik kereta KRL ekonomi karena ongkosnya murah dan lebih cepat. Selain itu, di kereta KRL ekonomi bukan hanya Kang Udin yang naik tapi teman-teman seprofesinya juga banyak yang naik kereta KRL ekonomi. ”Meskipun naik kerata KRL ekonomi jurusan Bogor-Jakarta pengap, panas dan berdesak-desakan serta sangat melelahkan tapi semua itu tidak terasa karena berangkatnya bersama-sama teman,” kata Kang Udin.
Kang Udin juga perna mengalami nasib yang sial ketika naik kereta KRL ekonomi. Menurut Kang Udin seperti biasanya waktu itu dia hendak berjualan kue ke Jakarta, ketika kereta yang ditumpangi tiba di stasiun Depok dan waktu itu penumpangnya sangat padat serta calon penumpang dari Depok juga banyak maka pas kereta KRL ekonomi berhenti di stasiun Depok berhenti, tiba-tiba pemumpang yang dari Depok berebut merangsek masuk ke dalam kereta kebetulan waktu itu Kang Udin posisinya dekat dengan pintu maka dagangan yang dibawa Kang Udin ikut terinjak-injak oleh penumpang. ”Begitulah suka duka naik angkutan rakyat kecil (red. KRL ekonomi) selain murah, kadang tidak manusiawi,” ungkap Kang Udin.
Jajanan Orang Pinggiran
Menurut Kang Udin kue-kue yang dijajakan Kang Udin juga bukan kue yang harganya mahal, tetapi hanya kue-kue kampung yang biasa dikonsumsi orang-orang kampung. ”Kue yang saya jual cuma kue lepat, kacang rebus, pisang rebus, tape ketan, uli, opak, dan telur asin. Itu semua jajanan orang kampung yang saat ini sudah langka,” jelas Kang Udin.

Kalau di kota orang kampung adalah orang-orang yang terpinggirkan. Biasanya orang-orang pinggiran pekerjaannya kasar-kasar seperti kuli, pedagang asongan, tukang parkir, supir dan sebagainya. ”jadi saya ini adalah orang kampung yang berjualan kue kampung, buat orang-orang kampung,” kata Kang Udin.
Berkaitan dengan harga kue yang realitif murah, Kang Uding mengatakan, Karena yang membeli kue kampung kebanyakan adalah orang-orang kampung yang ekonominya pas-pasan maka harga kue-kuenya juga harga pinggirin. ”Semua kue-kue yang saya jual harganya cuma Rp 1.000,- dan harga ini adalah harga yang pas buat orang-orang kampung,” jelas Kang Udin.

Ketika ditanya apakah keuntunga yang Kang Udin dapat cukup besar? Menurut Kang Udin keuntungan yang dia dapat tidaklah seberapa besar hanya cukup buat makan sehari-hari keluarganya.”Kalau dibilang untungnya besar ya tidak mungkin, karena kue-kue yang saya jual harganya hanya Rp 1.000 tapi kalau hanya buat makan keluarga cukuplah,” kata Kang Udin.
Untuk memperkecil biaya produksi, menurut Kang Udin semua kue-kue yang dijualnya tidak mempergunakana bahan-bahan yang harganya mahal, seperti tepung terigu atau lain-lainya. Kang Udin hanya mengolah hasil dari perkebunan seperti kacang tanah, pada ketan. Cara mengelolanya juga sederhana yaitu hanya direbus dengan menggunakan air. ”Dengan menjual kue-kue yang direbus selain mengirit biaya juga jauh lebih sehat dan alami,”kata Kang Udin.
Selain itu, lanjut Kang Udin jajanan-jajanan yang kang Udin jual dibuat sendiri olehnya dengan dibantu oleh istri. Untuk merebus ubi, pisang, membuat lepat, membuat uli dikerjakannya sejak subuh. ”Nah kalau tape ketan dan telur asin biasanya agak lama karena butuh proses. Kalau telur asin cukup sehari semalam untuk membuatnya asin, kalau tape agak lama yaitu 3 hari untuk proses jadi tapenya,” jelas Kang Udin.
Untuk pemasaran, menurut lelaki asli Bogor ini biasanya dia sendiri yang menjualnya di daerah Jakarta.”Saya biasanya menjual di daerah-daerah Menteng, Gondangdia, Monas, dan Tanahabang. Sengaja saya jual di daerah itu karena daerah seperti Tanahabang misalnya masih banyak orang Betawi asli dan orang-orang kampung,”katanya.
Alasan lain kenapa Kang Udin berjalan di daerah Jakarta, menurutnya karena di Jakarta jajanan atau kue-kue yang dijualnya terbilang langka dan hanya ada pada musim-musim tertentu. Seperti uli dan tape ketan misalnya, hanya ada ketika hari raya idul fitri atau idul adha. ”Padahal pada jaman dulu kue-kue seperti itu menjadi makanan setiap hari orang-orang betawi dan orang-orang Cina. Setiap tempat nongkrong atau ngopi kue-kue ini selalu tersedia,” jelas Kang Udin.
Ketika ditanya kenapa Kang Uding berjualan kue-kue kapung seperti itu? Menurut Kang Udin, selain pekerjaan seperti ini adalah warisan dari orang tua, juga karena mencari pekerjaan di pabrik sangat susah karena selalu mensyaratkan pakai ijazah minimal SMA, sedangkan dirinya hanya mengenyam bangku pendidikan hanya sampai tingkat SMP itupun tidak selesai.
Begitu berat kehidupan Kang Udin, ketika Kota Bogor dan Jakarta telah bergeliat berkembang maju, Kang Udin dan orang tuanya tetap terpinggirkan seakan tidak tersentuh oleh perkembangan dan kemajuan. Profesi yang dia lakoni juga profesi pinggiran dengan menjual kue-kue pinggiran dan dimakan oleh orang-orang yang terpinggirkan. Kapankah nasib Kang Udin bergerak maju secara ajeg, seperti lajunya kereta KRL ekonomi yang setiap hari bergerak maju dari Bogor ke Jakarta yang setiap hari setia mengantarnya untuk berusaha.